Pada Januari-Juli 2026, impor sapi hidup Indonesia mencapai 92,7 ribu ton. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor tersebut sebesar US$ 331 juta. Semua impor sapi hidup tersebut berasal dari Australia, menunjukkan ketergantungan Indonesia pada negara tetangga dalam hal pasokan sapi hidup.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami peningkatan permintaan sapi hidup untuk keperluan industri dan konsumsi. Hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan kesehatan, serta perkembangan industri peternakan di Indonesia.
Impor sapi hidup yang besar juga dapat membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan sapi hidup, industri peternakan di Indonesia dapat meningkatkan produksi dan pendapatan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitar.
Namun, perlu diingat bahwa impor sapi hidup juga dapat memiliki dampak negatif, seperti tekanan pada lingkungan dan ketergantungan pada impor. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi sapi hidup domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam jangka panjang, meningkatkan produksi sapi hidup domestik dapat membantu mengurangi biaya impor dan meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan teknologi dan infrastruktur peternakan di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan produksi sapi hidup domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.




