Industri Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, salah satunya terkait dengan keterbatasan anggaran belanja produktif dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Menurut CSIS, anggaran ini terbatas karena didominasi oleh belanja rutin dan kewajiban membayar utang serta subsidi.

Dalam laporan terkait, CSIS menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia masih memiliki utang yang besar, yang berdampak pada keterbatasan ruang fiskal dalam mengalokasikan anggaran untuk kegiatan produktif. Hal ini kemudian berdampak pada kemampuan pemerintah untuk meningkatkan investasi dalam sektor-sektor strategis yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, anggaran belanja produktif dalam RAPBN 2027 terlihat terbatas jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki jarak yang signifikan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Untuk mengatasi keterbatasan anggaran belanja produktif ini, CSIS mengusulkan beberapa langkah yang dapat diambil oleh pemerintah. Pertama, pemerintah dapat meningkatkan pendapatan negara melalui peningkatan pajak dan non-pajak. Kedua, pemerintah dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran belanja produktif dengan fokus pada proyek-proyek yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, pemerintah dapat meningkatkan kemampuan dalam mengalokasikan anggaran belanja produktif dan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Namun, perlu diingat bahwa keterbatasan anggaran belanja produktif ini masih merupakan tantangan yang signifikan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di Indonesia.