Pasar moneter internasional kembali berdampak pada nilai tukar rupiah Indonesia. Pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.700 per dolar AS. Kebijakan moneter yang diambil Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan eskalasi konflik antara AS dan Iran dipicu sebagai alasan utama penurunan nilai rupiah.

Konflik antara AS dan Iran yang semakin intensif membuat investor cemas tentang kemungkinan adanya konflik besar-besaran. Hal ini membuat mereka berpikir untuk meningkatkan investasi di aset yang lebih stabil, seperti dolar AS. Dengan demikian, permintaan untuk dolar AS meningkat, dan nilai tukar rupiah terdorong melemah.

Kebijakan The Fed juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Bank sentral AS telah meningkatkan suku bunga untuk mengurangi inflasi dan mengontrol pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor, dan nilai tukar rupiah terdorong melemah.

Pada akhirnya, penurunan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada ekspor Indonesia. Jika rupiah melemah, maka harga ekspor Indonesia akan meningkat, sehingga dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan ekspor. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan bank sentral untuk memantau situasi nilai tukar rupiah dan mengambil kebijakan yang tepat untuk mengurangi dampak negatifnya.